Blak-blakan Mahasiswi 'Ayam Kampus', Tarif Sekali Berzina dan Alasan Jual Diri untuk Diajak Tidur


TRIBUN-TIMUR.COM - Blak-blakan mahasiswi 'ayam kampus', tarif sekali berzina dan alasan jual diri untuk diajak tidur.

Bukan rahasia lagi jika sejumlah mahasiswi Tanah Air menjajakan dirinya atau nyambi sebagai "ayam kampus".

Berbagai alasan mereka memilih jual diri.

Sejumlah mahasiswi masuk ke dalam dunia prostitusi online alias "ayam kampus" di Kota Palembang, Sumatera Selatan dan fenomena ini memang bukan hal baru.

Para ayam kampus ini rela menjajakan cinta demi memenuhi kebutuhan kuliah, kebutuhan sehari-harinya, bahkan gaya hidup.

Berbeda Pekerja Seks Komersial (PSK) lainnya yang menjajakan diri secara terang-terangan, para "ayam kampus" ini dalam mencari pelanggan terbilang lebih eksklusif.

"Ayam kampus" menggunakan berbagai aplikasi media sosial atau tawaran dari mulut-mulut untuk mencari pelanggan.

Dalam mencari pelanggan, mereka kini tak sembarangan, lebih memilih-memilih pelanggan yang akan menggunakan jasa kepuasan nafsu itu.

Hal itu karena beberapa kasus prostitusi online yang mencuat ke publik, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan "ayam kampus"

"Kalau saya sih lebih pilih pelanggan, tidak mau dari kalangan mahasiswa atau orang yang kita tidak tahu latar belakangnya," ujar MS (21), salah seorang "ayam kampus" di perguruan tinggi swasta di Palembang

MS mengungkapkan, untuk modus yang mereka pakai bisanya memasang foto cantik nan menggoda di beberapa aplikasi sosial media.

Kemudian, biasanya para pelanggan langsung chatting dengan si "ayam kampus" untuk menanyakan bisa "dipakai" atau tidak.

Setelah si "ayam" mengaku bisa, kemudian komunikasi berlanjut untuk menentukan tarif dan lokasi untuk bercinta.

Kesan eksklusif yang ditawarkan oleh penjaja cinta "ayam kampus", membuat mereka enggan sembarangan memilih tempat untuk berkencan.

Jika ada konsumen yang tertarik menggunakan jasa si "ayam kampus", paling tidak menginginkan ngamar di hotel berbintang tiga.

Dalam setiap kali kencan, ia mematok tarif minimal Rp 1 juta untuk layanan short time dan paling besar Rp 5 juta untuk long time.

"Biasanya kalau saya sih langsung minta DP sama pelanggan kalau memang dia serius. Setelah ditransfer baru langsung ketemuan di lokasi dijanjikan. Jika dapat pelanggan yang sudah mapan biasanya suka kasih lebih. Ya bisa sampai Rp 10 juta," katanya mengungkapkan.

Tak Perawan Lagi

Ia menjelaskan, awal mula terjerumus ke dalam dunia hitam tersebut setelah semasa SMA keperawanannya direnggut oleh sang pacar.

Merasa dirinya sudah tak suci lagi, perempuan berambut panjang ini memilih terjun menjadi "ayam kampus" saat masuk kuliah.

Selain itu, desakan rendahnya faktor ekonomi membuat si "ayam kampus" lebih memilih jalan pintas dengan menjual diri untuk menambah pundi-pundi uang.

"Kiriman orangtua dari kampung cukup untuk kuliah dan makan. Nah kalau mau biaya nongkrong dan beli barang terpaksa begini," jelasnya.

TY, "ayam kampus" lainnya di Palembang juga mengaku lebih wanti-wanti dalam cari pelanggan.

Menjajakan diri melalui media sosial membuat mereka dapat memilah pelanggan yang akan menggunakan jasa seks si "ayam kampus".

Jika dirasa si pelanggan aman dan memiliki isi kantong tebal, barulah ia mau diajak bercinta.

"Saya lebih ke eksklusif, nggak mau sembarang pilih pelanggan. Nanti bisa-bisa rupanya kita dijebak. Apalagi sekarang kasus prostitusi online sedang maraknya diungkap," katanya mengakui.

Dengan gaya eksklusifnya, membuat gadis pemilik tinggi badan sekitar 168 cm ini menerima pelanggan maksimal sekali dalam seminggu.

Namun jika ia sedang mood atau ingin beli sesuatu, TY bakal langsung meladeni apabila ada pelangggan yang mau menggunakan jasanya.

"Ya tergantung mood juga sih, tapi kalau mau beli sesuatu, saya cari pelanggan," ujarnya.

Diakuinya, menjadi "ayam kampus" tak banyak orang yang mengetahui, terlebih lingkungan keluarga dan pacarnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel