Kabar Nadiem Pindah Agama Usai Gelar Pernikahan di Gereja Terjawab, Ternyata


Nadiem Makarin adalah satu dari dua anak muda yang dipercaya Presiden Joko Widodo menjadi menteri di Kabinet Indonesia Maju. CEO Gojek ini dipercaya menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan.

Banyak hal menarik yang bisa dikulik dari sosok menteri muda ini berusia 35 tahun itu. Salah satunya adalah pernikahannya dengan Franka Franklin yang ternyata berbeda agama. Nadiem sendiri beragama Islam, sedangkan istrinya adalah pemeluk Katolik.
Dikutip dari Detik.com (04/05/2020), Nadiem Makarim Bos Gojek menjadi salah satu menteri Kabinet Indonesia Maju yang cukup fenomenal dan menjadi bahan perbincangan masyarakat.


Franka Franklin melengkapi hidupnya dengan menerima pinangan Nadiem Makarim 2014 silam. Mereka menikah di pulau romantis dan dijuluki pulau dewata, Pulau Bali.

Namun yang menjadi sorotan adalah saat Nadiem menggelar penikahan di Gereja, banyak yang menyangka jika Nadiem sudah berpindah keyakinan demi sang kekasih hati yang dia nikahi.


Nadiem dan Franka yang mengenakan kalung salib tampak duduk menghadap altar. Terlihat pula deretan bangku yang berada di depannya terisi penuh. Sementara itu, di belakang ada pastor yang menengadahkan tangan untuk memberkati mereka yang mengikat janji suci di hadapan Sang Khalik.

Kabar tersebut akhirnya dijawab oleh Mayjen TNI (Purn) Zacky Anwar Makarim sebagai pamannya Nadiem Makarim. Dia menjelaskan jika keponakannya tersebut adalah seorang yang liberal.


Nadiem juga disebut punya sifat kemanusiaan dan menghargai HAM maka dari itu tidak memaksakan istrinya untuk berpindah keyakinan menjadi seorang muslim. Pria bernama asli Nadiem Anwar Makarim ini merupakan anak dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri.

Pria kelahiran Singapura, 4 Juli 1984 ini memiliki darah campuran Arab dari ayahnya dan darah India dari sang ibu. Ayahnya adalah notaris kenamaan Indonesia. Sementara kakeknya adalah pejuang perintis kemerdekaan Indonesia, keturunan Arab, yang berjasa dalam perundingan Linggarjati, perundingan Renville, KMB, dan salah satu anggota parlemen pada masa awal berdirinya negara Republik Indonesia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel