Para Ahli Temukan Rahasia Penyebab Virus Corona Menyebar sangat Cepat, Ternyata karena Hal Ini


TRIBUNBATAM.id, CHINA- Para ahli terus melakukan penelitian terhadap virus Corona.

Hal itu guna mempelajari virus tersebut dan dalam upaya menemukan vaksin virus Corona.

Baru-baru ini para ahli sudah temukan rahasianya kenapa virus Corona sangat mudah menyebar.

Banyak sekali pertanyaan tentang bagaimana virus Corona beradaptasi dengan cepat dari organisme berdarah dingin ke organisme berdarah panas.

Para peneliti masih melakukan pengujian lebih lanjut untuk menentukan sumber hewan yang menjadi inang awal virus ini.

Gejala umum dan risiko virus Corona telah mengadopsi pencegahan dan pengukuran terkontrol yang digunakan untuk epidemi besar seperti kolera.
Artinya, petugas kesehatan memiliki kuasa untuk mengunci area yang terinfeksi dan pasien yang dikarantina.

Meski begitu, seorang dokter ahli yang sedang mengerjakan risetnya mengenai virus Corona, mengatakan masker mulut pun tidak cukup untuk mencegah penyebaran virus tersebut.

Wang Guangfa, dokter terkemuka yang telah 'berperang' di China melawan SARS tahun 2003 silam, telah terinfeksi virus Corona sendiri tetapi sudah sembuh.

Wang yakin ia terinfeksi justru karena ia tidak mengenakan pelindung mata.

Wang, yang juga ahli pernapasan di Rumah Sakit Universitas Peking Beijing melaporkan ia telah diolok-olok di media setelah mengatakan penyakit yang disebabkan oleh virus Corona dapat dicegah dan dikontrol, dua minggu yang lalu.


Kini ia mengklaim pernyataan yang kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya disebabkan kurangnya pelindung mata saat ia mengunjungi klinik demam dan ruang isolasi di Wuhan, tempat kasus mencuat.

Ia melaporkan: "Saat itu kami sudah sangat berhati-hati dan mengenakan masker M95.

"Namun aku segera sadar jika kami tidak mengenakan kacamata pelindung."

Ia juga mengatakan adanya gejala mata merah setelah ia kembali ke Beijing, dan tiga jam kemudian ia mulai mengalami demam dan hidung tersumbat akibat ingus yang parah.

Awalnya, ia mengira ia sakit flu karena ia belum pernah melihat pasien Wuhan menderita dari hidung tersumbat sebelumnya.

Namun selanjutnya obat flu tidak berhasil mengobatinya, dan saat diuji tes corona, ia positif mengidap penyakit tersebut.

Tim medis memeriksa seorang pasien yang terinfeksi virus corona di Rumah Sakit Jinyintan Wuhan pada 26 Januari 2020. (EPA-Efe/STR)

Ia menduga, virus tersebut masuk ke tubuhnya melewati matanya.

Itu penjelasan paling masuk akal baginya.

Kini, seorang ahli Komisi Kesehatan China Li Lanjuan mengatakan staff yang akan menangani langsung pasien virus corona harus menggunakan kacamata pelindung.

Namun orang lain cukup mengenakan masker wajah.

Jika dibandingkan dengan virus SARS, dilansir dari CNN ilmuwan menyatakan jika tingkat infeksi virus ini lebih kuat dibandingkan SARS.

Setiap harinya jumlah orang yang terinfeksi semakin meningkat.

Lantas, mengapa virus corona yang baru ditemukan ini dapat menginfeksi lebih banyak manusia atau kenapa virus ini secara cepat menyebar?

Menurut hasil penelitian studi terbaru, protein yang terkandung dalam virus corona SARS-CoV-2 memiliki "daerah khusus" atau ridge yang lebih padat.

Hal ini membuatnya lebih mudah menempel pada sel manusia dibanding virus corona jenis lainnya.

Saat virus mudah menempel ke sel manusia, ini memungkinkan virus corona SARS-CoV-2 memiliki kemampuan menginfeksi dengan lebih baik dan mampu menyebar lebih cepat.

Penduduk, yang memakai masker wajah sebagai tindakan pencegahan terhadap penyebaran virus corona COVID-19, mempraktikkan social distancing ketika mereka menunggu untuk diuji di pusat pengujian cepat sementara dekat rumah sakit Bach Mai di Hanoi pada 31 Maret 2020. (VATSYAYANA / AFP)

Dikutip dari Kompas.com, virus corona baru SARS-CoV-2 menempel pada sel manusia melalui apa yang disebut spike protein.

Ketike spike protein menempel atau terikat pada reseptor sel manusia - protein pada permukaan sel.

Itu yang berfungsi sebagai pintu masuk sel -membran virus akan bergabung dengan sel manusia.

Hal ini memungkinkan genom virus untuk masuk ke dalam sel manusia.

Semua jenis virus corona, termasuk yang menyebabkan penyakit SARS dan MERS, menempel pada sel manusia melalui spike protein.

Namun, setiap jenis virus corona memiliki struktur spike protein yang berbeda.

Pada Februari 2020, sekelompok peneliti dari Universitas Texas di Austin dan National Institutes of Health memetakan struktur molekul spike protein pada virus corona baru SARS-CoV-2.

Terbaru, sekelompok peneliti lain dari University of Minnesota mengeksplorasi lebih lanjut spike protein virus corona baru dan keterikatannya dengan reseptor sel manusia menggunakan sinar-X.

Tujuan mereka adalah untuk memahami mengapa spike protein virus corona baru sangat ahli dalam menginfeksi sel manusia dibanding dengan virus corona lain, terutama virus SARS-CoV.

Baik SARS-CoV (penyebab wabah SARS pada 2003) dan SARS-CoV-2 (virus corona penyebab pandemi Covid-19 saat ini).

Mengikat reseptor manusia yang sama, yang dikenal sebagai ACE2.

Foto Angkatan Darat AS pada 8 Maret 2020 menunjukkan seorang karyawan USAMRIID (Institut Penelitian Medis Angkatan Darat Amerika Serikat) sedang melakukan penelitian terhadap virus coronavirus baru, COVID-19 (ERIN BOLLING / US ARMY / AFP)

Menurut penelitian terbaru yang dilakukan tim dari Universitas Minnesota menemukan mutasi genetik membuat spike protein pada SARS-CoV-2 mengembangkan ridge atau "daerah khusus" molekuler yang lebih rapat.

Struktur yang lebih padat dan adanya beberapa perbedaan kecil memungkinkan SARS-CoV-2 menempel lebih kuat pada reseptor ACE2 manusia.

Hal ini pada akhirnya membuat virus ini dapat menginfeksi manusia dengan lebih baik dan mampu menyebar lebih cepat dibanding virus corona yang menyebabkan SARS.

"Secara umum, dengan mempelajari struktur dari protein paling penting dalam virus."

"Kami dapat merancang obat dan memblokir aktivitas mereka, seperti mengacaukan radar mereka," ucap Fang Li.

Fang Li merupakan seorang profesor di Departemen Ilmu Hewan dan Biomedis di University of Minnesota.

Dengan mempelajari secara spesifik virus ini dan bagaimana ia melekat pada sel manusia.

ilustrasi (Pixabay)

Para peneliti juga memperoleh beberapa wawasan tentang bagaimana virus itu dapat melompat dari hewan ke manusia.

Mereka menemukan virus corona pada kelelawar juga berikatan dengan reseptor ACE2, tetapi buruk.

Beberapa mutasi bisa meningkatkan kemampuan virus kelelawar untuk menempel pada reseptor manusia, memungkinkan lompatan ke manusia.

Para peneliti juga menganalisis struktur spike protein pada trenggiling, yang bisa menjadi inang antara kelelawar dan manusia.

Mereka menemukan salah satu virus corona pada trenggiling berpotensi mengikat reseptor manusia.

Ini mendukung gagasan bahwa trenggiling adalah inang perantara virus.

"Tetapi hipotesis itu perlu diverifikasi secara eksperimental," tulis ahli dalam penelitian tersebut.(*)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel