Protes Soal BLT Dana Desa, Warga Lempari Kantor Wali Nagari Punggasan Utara Namun Malah Ini Yang Terjadi


Painan, Padangkita.com – Kantor wali nagari di Pesisir Selatan (Pessel) kembali jadi sasaran warga yang memprotes penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) Dana Desa. Kali ini giliran kantor Wali Nagari Punggasan Utara, Kecamatan Linggo Sari Baganti yang dirusak, Kamis (21/5/2020) siang.

Akibatnya kaca jendela kantor pecah dan satu unit layar monitor komputer rusak karena dilempari batu. Beberapa pot bunga dan pagar taman dari bambu juga berserakan di halaman kantor wali nagari.


Warga yang protes siang itu hanya menemui kantor kosong yang dikunci. Sebab, Kamis bertepatan dengan tanggal merah atau hari libur kerja, sehingga tak ada satupun aparat nagari di kantor tersebut.

Wali Nagari Punggasan Utara, Syafrisal mengatakan, dari informasi yang diterimanya, sejumlah warga datang ke kantor wali nagari sekitar pukul 13.30 WIB. Warga itu protes karena tidak masuk dalam data penerima BLT.


“Persis kejadiannya kami tidak tahu. Masalahnya, hari ini kan libur dan kantor tutup,” ujar Syafrisal kepada Padangkita.com, Kamis (21/5/2020) sore.

Baca juga: Ditinggal Suami dan Keluarga, Nenek Tua di Punggasan Pesisir Selatan Hidup Sendiri di Gubuk Reyot

Syafrisal menduga warga yang protes itu kemungkinan kesal karena hanya menemui kantor yang kosong, sehingga terjadi pengrusakan.
“Pemicunya, mereka tidak menerima karena tidak dapat BLT (Dana Desa),” kata Syafrisal.

Sebelum aksi protes yang berujung perusakan kantor wali nagari, Syafrisal mengaku pada malam sebelumnya didatangi oleh salah seorang pelaku perusakan. Warga itu, kata Syafrisal mengancam dirinya karena tak masuk sebagai penerima BLT Dana Desa.

“Malamnya dia datang ke rumah saya, memanggil saya dengan suara keras. Membuat seisi rumah saya kaget,” ujar Syafrisal tanpa menyebut identitas warga yang mendatanginya.

Menurut Syafrisal, warga yang melakukan perusakan itu tidak mengerti tentang tahapan penyaluran bantuan bagi masyarakat yang terdampak Covid-19.


Warga tersebut, lanjut Syafrisal, hanya mengetahui semua orang akan menerima BLT Dana Desa sebesar Rp600.000 secara serentak.
Padahal, kata Syafrisal, sebagian dari mereka yang protes telah terdaftar sebagai penerima BLT, tetapi belum disalurkan. Dari mereka juga ada yang telah terdaftar sebagai penerima bantuan program keluarga harapan (PKH).

Saat didatangi malam harinya, Syafrisal mengaku telah berusaha menjelaskan soal bantuan sosial dan bagaimana penyalurannya. Saat ini, di nagari-nagari di Kecamatan Linggo Sari Baganti sedang disalurkan BLT Dana Desa.

Berikutnya, dijadwalkan penyaluran Bansos Tunai (BST) dari Kemensos dan BLT dari Jaring Pengaman Sosial (JPS) dari Provinsi Sumbar. “BLT ini kan tidak hanya satu ini, masih ada BLT dari Pusat (Kemensos) dan (JPS) Provinsi yang akan cair,” jelasnya.

Dilaporkan ke Polisi
Soal pengrusakan kantor wali nagari, Syafrisal mengatakan akan membawa ke ranah hukum atau melaporkan ke polisi. Sebab, kata dia, yang terjadi bukanlah penyampaian aspirasi warga, tetapi murni pengrusakan.

Sejumlah warga itu datang ke kantor wali nagari ketika aparat nagari sedang libut kerja dan kantor sedang kosong. Syafrisal berharap, dengan dilaporkan ke polisi, kejadi serupa tidak terjadi lagi.

“Ini bisa dikatakan perbuatan oknum. Tanpa ada pemilik rumah (kantor dalam keadaan kosong) mereka merusak kantor. Makanya kami akan buat laporan.”

Pengrusakan kantor wali nagari sebagai buntut ketidakpuasan warga atas penyaluran bantuan sosial di Pessel, bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya, dua kantor wali nagari telah lebih dulu menjadi sararan warga yang tak puas.

Dua kantor wali nagari yang dirusak warga sebelumnya adalah kantor Wali Nagari Rawang Gunuang Malelo, Kecamatan Sutera, dan kantor Wali Nagari Muara Kandis Punggasan, Kecamatan Linggo Sari Baganti. [mfz]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel